Pada
bagian ke-3 ini, simbol (baca: tanda baca) yang akan kita bahas penggunaannya
adalah tanda kurung ((…))
dan tanda kurung siku ([…]).
Seperti yang kita ketahui, “tanda kurung” relatif lebih sering muncul dalam
tulisan dibandingkan “tanda kurung siku”. Salah satu penyebabnya, “tanda kurung”
memiliki penggunaan yang lebih luas daripada “tanda kurung siku”.
Akan
tetapi, bukan berarti “tanda kurung siku” tidak perlu dipakai, karena simbol
ini mempunyai kegunaan sendiri. Untuk lebih jelasnya, berikut ini terdapat
contoh-contoh penggunaan kedua simbol tersebut.
1) Tanda Kurung ((…))
Empat
penggunaan “tanda kurung” yang umumnya didapati dalam tulisan adalah sebagai
berikut.
a) “Tanda kurung”
mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
Contoh:
Dia menjadi salah satu anggota DPR (Dewan Perwakilan
Rakyat) tiga bulan yang lalu.
Kemampuan robot yang dibuat oleh tim dari
universitas kami masih belum stabil (seimbang).
b) “Tanda kurung”
mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok
pembicaraan.
Contoh:
Pergerakan yang dilakukan oleh pasukan khusus (lihat
Gambar 8) dalam perang tahun lalu sangat layak mendapat pujian.
Puisi yang berjudul “Bumerang” (senjata tradisional suku
Aborigin) tersebut telah dimuat di salah satu majalah terkenal.
c) “Tanda kurung”
mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.
Contoh:
Rona tersipu malu ketika dihadiahi setangkai (bunga)
mawar oleh kekasihnya.
Kata polybenzene
diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi polibenzen(a).
d) “Tanda kurung”
mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan.
Contoh:
Kinerja orang itu sangat dipengaruhi oleh faktor (a)
internal dan (b) eksternal.
Langkah positif yang dapat diambil sekarang ini adalah
(1) mempelajari teori dengan baik, (2) latihan yang benar, dan (3) istirahat
secukupnya.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Anda
tertarik untuk menggunakan jasa editing tulisan…???
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
2) Tanda Kurung Siku ([…])
Dua
penggunaan “tanda kurung siku” yang biasa dijumpai dalam tulisan adalah sebagai
berikut.
a) “Tanda kurung siku”
mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada
kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain, dimana tanda itu
menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah
asli.
Contoh:
Jenderal Kancil telah men[j]atuhkan lawannya dalam
pertandingan itu.
Pihak [yang] dinyatakan bersalah sudah memenuhi
persyaratan dalam persidangan.
b) “Tanda kurung siku”
mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.
Contoh:
Proses yang dilakukan menggunakan alat ini memiliki
kelebihan (kekurangannya [lihat halaman 45] tidak dibicarakan) dibandingkan
dengan alat konvensional yang tersedia.
Referensi:
Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, 1988, “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
(EYD)”, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Balai Pustaka, Jakarta.
Salam Ceria…!!! ^_^