Rabu, 23 April 2014

Penggunaan Simbol, Bagian III (Tanda Kurung dan Kurung Siku)



Pada bagian ke-3 ini, simbol (baca: tanda baca) yang akan kita bahas penggunaannya adalah tanda kurung ((…)) dan tanda kurung siku ([…]). Seperti yang kita ketahui, “tanda kurung” relatif lebih sering muncul dalam tulisan dibandingkan “tanda kurung siku”. Salah satu penyebabnya, “tanda kurung” memiliki penggunaan yang lebih luas daripada “tanda kurung siku”.

Akan tetapi, bukan berarti “tanda kurung siku” tidak perlu dipakai, karena simbol ini mempunyai kegunaan sendiri. Untuk lebih jelasnya, berikut ini terdapat contoh-contoh penggunaan kedua simbol tersebut.

1) Tanda Kurung ((…))
Empat penggunaan “tanda kurung” yang umumnya didapati dalam tulisan adalah sebagai berikut.

a) “Tanda kurung” mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.

Contoh:
Dia menjadi salah satu anggota DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) tiga bulan yang lalu.
Kemampuan robot yang dibuat oleh tim dari universitas kami masih belum stabil (seimbang).

b) “Tanda kurung” mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan.

Contoh:
Pergerakan yang dilakukan oleh pasukan khusus (lihat Gambar 8) dalam perang tahun lalu sangat layak mendapat pujian.
Puisi yang berjudul “Bumerang” (senjata tradisional suku Aborigin) tersebut telah dimuat di salah satu majalah terkenal.

c) “Tanda kurung” mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.

Contoh:
Rona tersipu malu ketika dihadiahi setangkai (bunga) mawar oleh kekasihnya.
Kata polybenzene diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi polibenzen(a).

d) “Tanda kurung” mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan.

Contoh:
Kinerja orang itu sangat dipengaruhi oleh faktor (a) internal dan (b) eksternal.
Langkah positif yang dapat diambil sekarang ini adalah (1) mempelajari teori dengan baik, (2) latihan yang benar, dan (3) istirahat secukupnya.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Anda tertarik untuk menggunakan jasa editing tulisan…???
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

2) Tanda Kurung Siku ([…])
Dua penggunaan “tanda kurung siku” yang biasa dijumpai dalam tulisan adalah sebagai berikut.

a) “Tanda kurung siku” mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain, dimana tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli.

Contoh:
Jenderal Kancil telah men[j]atuhkan lawannya dalam pertandingan itu.
Pihak [yang] dinyatakan bersalah sudah memenuhi persyaratan dalam persidangan.

b) “Tanda kurung siku” mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.

Contoh:
Proses yang dilakukan menggunakan alat ini memiliki kelebihan (kekurangannya [lihat halaman 45] tidak dibicarakan) dibandingkan dengan alat konvensional yang tersedia.


Referensi:

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988, “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD)”, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Balai Pustaka, Jakarta.



Salam Ceria…!!!  ^_^

Selasa, 22 April 2014

Penggunaan Simbol, Bagian II (Tanda Titik Koma dan Titik Dua)



Materi penggunaan simbol pada bagian ke-2 ini, akan membahas sekilas mengenai simbol (baca: tanda baca), yaitu tanda titik koma (;) dan tanda titik dua (:).

Dua simbol ini sangat sering dijumpai pada banyak tulisan, sehingga para pembaca mungkin sudah tidak asing lagi dengan keduanya. Bahkan, di antara pembaca, kemungkinan besar sudah mengetahui banyak hal tentang kedua simbol ini.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Anda tertarik untuk menggunakan jasa editing tulisan…???
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Meskipun demikian, tulisan yang kemudian terbaca oleh Anda ini masih bisa bermanfaat. Alasannya adalah materi seperti ini seringkali dianggap sepele (baca: mudah) oleh sebagian orang, sehingga menjadi sangat kurang diperhatikan.

Saking mudahnya, sampai-sampai lupa bagaimana cara yang benar menggunakannya. Hehehe… ^_^

Baiklah, rekan-rekan… Mari langsung saja kita menuju materi…

1) Tanda Titik Koma (;)
Dua penggunaan “tanda titik koma” yang lazim dijumpai adalah sebagai berikut.

a) “Tanda titik koma” dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.

Contoh:
Ibu sudah beberapa kali melarangnya; adik tetap berkunjung ke sana.
Matahari mulai tenggelam; dia tak kunjung datang.

b) “Tanda titik koma” dapat digunakan sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk.

Contoh:
Bapak memperbaiki genteng yang bocor; Paman rajin membersihkan tanaman pengganggu di kebun; Kakak asyik membuat kandang ayam; saya sendiri sibuk menyelesaikan tugas sekolah.

2) Tanda Titik Dua (:)
Empat penggunaan “tanda titik dua” yang biasa ditemui adalah sebagai berikut.

a) “Tanda titik dua” dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian.

Contoh:
Bu Susan pergi ke taman itu hanya untuk memetik bunga: mawar, melati, dan anggrek.
Selalu ada tiga kemungkinan hasil yang diperoleh jika kamu mengikuti sebuah pertandingan: menang, seri, atau kalah.

Catatan:

“Tanda titik dua” tidak dipakai jika rangkaian atau pemerian merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.

Misalnya:
Bibi membelikan buku, pensil, dan penghapus untuk anaknya.
Jurusan psikologi di universitas tempatnya kuliah memiliki konsentrasi psikologi industri dan konsentrasi psikologi anak.

b) “Tanda titik dua” digunakan sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.

Contoh:

(i) Pertama:
Ketua:                     M. Surya
Sekretaris:               Ningsih Wati
Bendahara:             Bambang Suhardjo

(ii) Kedua:
Tempat:                  Ruang A12
Pembawa Acara:   Ridwan T.
Hari:                        Sabtu
Pukul:                     08.00-selesai

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Anda tertarik untuk menggunakan jasa editing tulisan…???
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

c) “Tanda titik dua” dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.

Contoh:
Salah satu bagian percakapan di ruang tamu.
Ayah:           (mengangkat salah satu kotak)
                     “Tolong pindahkan kotak-kotak ini, San!”
Hasan:         “Baik, Yah.” (segera mengambil kotak yang besar)
Ayah:           “Hati-hati membawa kotak itu!” (berjalan menghampiri Hasan)

d) “Tanda titik dua” digunakan (i) di antara jilid atau nomor dan halaman, (ii) di antara bab dan ayat dalam kitab suci, (iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan, serta (iv) di antara nama kota dan acuan dalam karangan.

Contoh:
Tempo, I (1971), 34:7
Surah Ibrahim: 7
Karangan Bacharuddin Jusuf Habibie, Detik-Detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi, sudah terbit.
Syaifudin. 2012. Tan Malaka: Merajut Masyarakat dan Pendidikan Indonesia yang Sosialistis. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.


Referensi:

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988, “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD)”, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Balai Pustaka, Jakarta.



Salam Ceria…!!!  ^_^