Tulisan
kali ini mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita. Baik “kata dasar” maupun
“kata turunan” sudah sangat kita kenal. Dalam tulisan ini, kita hanya mengingat
kembali apa itu “kata dasar” dan “kata turunan”.
Jadi,
mohon maaf jika tulisan ini tidak terlalu mendalam membahas “kata dasar” dan
“kata turunan”. Hehehe... ^_^
A. Kata Dasar
Kata
dasar merupakan suatu kata yang tidak atau belum diberi penambahan apapun,
seperti ditambah imbuhan, baik itu awalan, sisipan ataupun akhiran.
Kata
dasar sudah memiliki makna meskipun hanya berdiri sendiri. Dalam penggunaannya,
kata dasar seringkali diletakkan bersama dengan kata dasar lainnya dan/atau
kata turunan untuk membentuk suatu kalimat.
Beberapa contoh kata dasar,
antara lain sebagai berikut.
-
Kata benda: bintang, jaring,
kantor, rumah, sinar, dan lain sebagainya.
-
Kata sifat: asli, baik,
besar, cantik, halus, indah, jahat, kasar, kecil, padat, palsu,
sayang, tampan, terang, dan
lain sebagainya.
-
Kata kerja: baca,
bicara, cari, duduk, hirup, lari, lihat, potong, tanam, tidur, tolong,
dan lain sebagainya.
Beberapa contoh penggunaan kata
dasar adalah sebagai berikut.
Bintang itu kelihatan
sangat indah.
Bicara saja tidak akan
mengubah perilakunya.
Besar
sekali ruangan yang digunakan Andi untuk tidur.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Anda
tertarik untuk menggunakan jasa editing tulisan…???
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
B. Kata Turunan
Kata
turunan merupakan kata yang dibentuk dari sebuah kata dasar yang diberi imbuhan
atau dua buah kata dasar dengan imbuhan maupun tanpa imbuhan. Beberapa kata
yang dikategorikan kata turunan adalah sebagai berikut.
a) Kata turunan yang
dibentuk dari kata dasar yang diberi imbuhan (awalan, sisipan, akhiran).
Penulisannya dengan cara dirangkai antara kata dasar dan imbuhan.
Contoh:
membintangi
jaringan
perumahan
menyinari
keaslian
kebaikan
dihaluskan
mengecilkan
membicarakan
mencari
berlari
pertolongan
b) Kata turunan yang
terdiri dari dua buah kata dasar yang diberi imbuhan. Jika hanya terdapat salah
satu imbuhan, seperti awalan atau akhiran saja dalam gabungan kata, maka unsur
gabungan kata ditulis terpisah, tetapi awalan atau akhiran ditulis serangkai
dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. Apabila terdapat awalan
dan akhiran sekaligus dalam gabungan kata, maka unsur gabungan kata ditulis
serangkai.
Contoh:
berlipat ganda
garis bawahi
sebar luaskan
----------------------------
melipatgandakan
menggarisbawahi
menyebarluaskan
c) Kata turunan yang memiliki salah satu unsur
gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi. Unsur gabungan kata seperti ini ditulis
serangkai.
Contoh:
aerodinamika
antarkota
caturtunggal
dwiwarna
ekstrakurikuler
mahasiswa
multilateral
narapidana
poligami
prasangka
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Anda
tertarik untuk menggunakan jasa editing tulisan…???
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Catatan:
(i)
Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya adalah huruf kapital, maka
di antara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-).
Misalnya:
non-Indonesia
(ii)
Jika kata “maha” sebagai unsur gabungan diikuti oleh kata “esa” dan kata yang
bukan kata dasar, maka gabungan itu ditulis terpisah.
Misalnya:
Mudah-mudahan
Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.
Marilah
kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha
Pengasih.
Referensi:
Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, 1988, “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
(EYD)”, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Balai Pustaka, Jakarta.
Salam Ceria…!!! ^_^