Selasa, 27 Mei 2014

Kata Dasar dan Kata Turunan



Tulisan kali ini mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita. Baik “kata dasar” maupun “kata turunan” sudah sangat kita kenal. Dalam tulisan ini, kita hanya mengingat kembali apa itu “kata dasar” dan “kata turunan”.

Jadi, mohon maaf jika tulisan ini tidak terlalu mendalam membahas “kata dasar” dan “kata turunan”. Hehehe... ^_^

A. Kata Dasar

Kata dasar merupakan suatu kata yang tidak atau belum diberi penambahan apapun, seperti ditambah imbuhan, baik itu awalan, sisipan ataupun akhiran.

Kata dasar sudah memiliki makna meskipun hanya berdiri sendiri. Dalam penggunaannya, kata dasar seringkali diletakkan bersama dengan kata dasar lainnya dan/atau kata turunan untuk membentuk suatu kalimat.

Beberapa contoh kata dasar, antara lain sebagai berikut.

- Kata benda: bintang, jaring, kantor, rumah, sinar, dan lain sebagainya.

- Kata sifat: asli, baik, besar, cantik, halus, indah, jahat, kasar, kecil, padat, palsu,
                     sayang, tampan, terang, dan lain sebagainya.

- Kata kerja: baca, bicara, cari, duduk, hirup, lari, lihat, potong, tanam, tidur, tolong,
                      dan lain sebagainya.

Beberapa contoh penggunaan kata dasar adalah sebagai berikut.

Bintang itu kelihatan sangat indah.

Bicara saja tidak akan mengubah perilakunya.

Besar sekali ruangan yang digunakan Andi untuk tidur.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Anda tertarik untuk menggunakan jasa editing tulisan…???
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

B. Kata Turunan

Kata turunan merupakan kata yang dibentuk dari sebuah kata dasar yang diberi imbuhan atau dua buah kata dasar dengan imbuhan maupun tanpa imbuhan. Beberapa kata yang dikategorikan kata turunan adalah sebagai berikut.

a) Kata turunan yang dibentuk dari kata dasar yang diberi imbuhan (awalan, sisipan, akhiran). Penulisannya dengan cara dirangkai antara kata dasar dan imbuhan.

Contoh:
membintangi
jaringan
perumahan
menyinari
keaslian
kebaikan
dihaluskan
mengecilkan
membicarakan
mencari
berlari
pertolongan

b) Kata turunan yang terdiri dari dua buah kata dasar yang diberi imbuhan. Jika hanya terdapat salah satu imbuhan, seperti awalan atau akhiran saja dalam gabungan kata, maka unsur gabungan kata ditulis terpisah, tetapi awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. Apabila terdapat awalan dan akhiran sekaligus dalam gabungan kata, maka unsur gabungan kata ditulis serangkai.

Contoh:
berlipat ganda
garis bawahi
sebar luaskan
----------------------------
melipatgandakan
menggarisbawahi
menyebarluaskan

c)  Kata turunan yang memiliki salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi. Unsur gabungan kata seperti ini ditulis serangkai.

Contoh:
aerodinamika
antarkota
caturtunggal
dwiwarna
ekstrakurikuler
mahasiswa
multilateral
narapidana
poligami
prasangka


-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Anda tertarik untuk menggunakan jasa editing tulisan…???
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Catatan:

(i) Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya adalah huruf kapital, maka di antara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-).

Misalnya: non-Indonesia

(ii) Jika kata “maha” sebagai unsur gabungan diikuti oleh kata “esa” dan kata yang bukan kata dasar, maka gabungan itu ditulis terpisah.

Misalnya:

Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.

Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.



Referensi:

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988, “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD)”, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Balai Pustaka, Jakarta.



Salam Ceria…!!!  ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar