Selasa, 05 Agustus 2014

Kaidah Penulisan Angka dan Lambang Bilangan (Bagian II)



Pada tulisan kali ini, kami akan melanjutkan beberapa kaidah terkait penulisan angka dan lambang bilangan. Kaidah-kaidah tersebut adalah sebagai berikut.

7.      Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran “-an”, contohnya dapat dilihat sebagai berikut.
      -  tahun ’70-an                           atau                tahun tujuh puluhan
      -  uang 500-an                           atau                uang lima ratusan
      -  uang sepuluh 2000-an         atau                uang sepuluh dua ribuan

8.      Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf, kecuali jika beberapa lambang bilangan digunakan secara berurutan. Contoh penggunaan kaidah ini diberikan sebagai berikut.
-  Susi menyaksikan peristiwa itu sebanyak dua kali.
-  Pak Amir menjual lima puluh unit alat peraga kesehatan.
-  Dari 100 peserta yang hadir, 75 orang menyatakan sanggup, 20 orang menyatakan tidak sanggup, dan 5 orang belum memberikan keputusan.
-  Budi membeli beberapa peralatan pendukung yang terdiri atas 10 meja tulis, 20 kursi, dan 2 papan tulis.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Anda tertarik untuk menggunakan jasa editing tulisan…???
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

9.  Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.
Misalnya:
Sepuluh orang yang terlibat dalam kasus tersebut sudah ditangkap.
   (Bukan: 10 orang yang terlibat dalam kasus tersebut sudah ditangkap.)
-  Bu Ana memiliki 150 jenis tanaman di kebun.
   (Bukan: 150 jenis tanaman di kebun dimiliki Bu Ana.)
   (Bukan: Seratus lima puluh jenis tanaman di kebun dimiliki Bu Ana.)

10.  Angka yang menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca.
Misalnya:
-  Orang itu berhasil mendapatkan hadiah sebesar 100 juta rupiah.
- Hasil korupsi yang dilakukan pejabat tersebut mencapai 2 milyar rupiah.

11.  Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks, kecuali di dalam dokumen resmi, seperti akta dan kuitansi.
Misalnya:
-  Pemilik toko itu mempekerjakan lima belas orang karyawan.
   (Bukan: Pemilik toko itu mempekerjakan 15 (lima belas) orang karyawan.)
-  Perpustakaan itu mempunyai 250 jenis buku dari berbagai disiplin ilmu.
     (Bukan: Perpustakaan itu mempunyai 250 (dua ratus lima puluh) jenis buku dari berbagai disiplin ilmu.)

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Anda tertarik untuk menggunakan jasa editing tulisan…???
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

12. Apabila bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, maka penulisannya harus tepat.
Misalnya:
- Kami lampirkan tanda terima uang sebesar Rp595,25 (lima ratus sembilan puluh lima dan dua puluh lima perseratus rupiah).
atau
-  Kami lampirkan tanda terima uang sebesar 595,25 (lima ratus sembilan puluh lima dan dua puluh lima perseratus) rupiah.

[Habis]


Referensi:

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988, “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD)”, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Balai Pustaka, Jakarta.


Salam Ceria…!!!  ^_^
 

Senin, 04 Agustus 2014

Kaidah Penulisan Angka dan Lambang Bilangan (Bagian I)



Penulisan yang dilakukan pada suatu karya ilmiah harus memperhatikan ejaan yang disempurnakan (EYD). Salah satu kaidah yang perlu diperhatikan menurut EYD adalah kaidah penulisan angka dan lambang bilangan. Pada tulisan kali ini, kami akan memaparkan kaidah-kaidah yang penting terkait penulisan angka dan lambang bilangan. Kaidah-kaidah tersebut adalah seperti yang dituliskan sebagai berikut.

1.    Angka digunakan untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan, lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.

Contoh:

     Angka Arab: 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
     Angka Romawi: I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500),
                                   M (1.000), MCM (1.900)

2.    Angka digunakan untuk menyatakan (i) ukuran panjang, berat, luas, dan isi, (ii) satuan waktu, (iii) nilai uang, dan (iv) kuantitas.

Misalnya:

2,5 sentimeter
3 kilogram
9 meter persegi
50 liter
4 jam 15 menit
pukul 12.30
tahun 1928
17 Agustus 1945
Rp3.000,00
7.500 rupiah
80 persen
100 orang

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Anda tertarik untuk menggunakan jasa editing tulisan…???
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

3. Angka lazim digunakan untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat.

Misalnya:

Jalan Tanah Abang I No. 15
Hotel Indonesia, Kamar 169

4.     Angka digunakan untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.

Misalnya:

Bab X, Pasal 5, halaman 252
Surah Yasin: 9

5.      Penulisan lambang bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut.

a.  Bilangan utuh

           Misalnya:

           lima belas                                         15
           lima puluh lima                               55
           lima ratus lima puluh lima            555

b.  Bilangan pecahan

           Misalnya:

           setengah                                            ½
           tiga perempat                                   ¾
           seperdelapan                                   
           lima seperempat                             
           enam puluh persen                         60%

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Anda tertarik untuk menggunakan jasa editing tulisan…???
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

6.  Penulisan lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.

Misalnya:

Babak VI
Babak ke-6
Babak keenam

Ruang IX
Ruang ke-9
Ruang kesembilan

Tahun III
Tahun ke-3
Tahun ketiga

Bersambung …


Referensi:

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988, “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD)”, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Balai Pustaka, Jakarta.


Salam Ceria…!!!  ^_^